Senin, 12 Oktober 2009

Bagian Penting Situs Majapahit Terlanjur Rusak

Kompas.com
Jumat, 9 Januari 2009

JAKARTA, JUMAT — Meskipun pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) di lokasi sekarang di samping Museum Majapahit, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dihentikan, proyek Departemen Kebudayaan dan Pariwisata itu telah merusak bagian penting Situs Majapahit. Sejarah kebesaran dan kehebatan peradaban Majapahit selama lebih kurang 200 tahun (1293-1521 Masehi) yang sudah dikenal luas itu terancam menjadi cerita dongeng.

Perusakan yang dilakukan pemerintah melalui proyek tanpa Izin Mendirikan Bangunan (IMB), tidak mempunyai kajian Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) itu, tak punya studi kelayakan, dan tak melibatkan Balai Arkeologi Yogyakarta sebagai pengemban tugas penelitian di wilayah DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Hal tersebut tidak saja melanggar Undang-Undang Nomor 5 tentang Benda Cagar Budaya, tetapi juga tak sesuai dengan etika profesi arkeolog dan hati nurani.

Demikian antara lain benang merah yang terungkap dalam paparan Tim Evaluasi Pembangunan PIM di kantor redaksi Kompas, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, Jumat (9/1). "Perlakuan Pemerintah diibaratkan bapak memperkosa anak dan kemudian memutilasinya," kata Prof Dr Mundardjito, menggambarkan kerusakan situs akibat proyek PIM senilai Rp 25 miliar tersebut.

Walaupun ditunjuk sebagai Tim Evaluasi Pembangunan PIM tanpa SK (surat keputusan), Mundardjito bersama Arya Abieta, Osriful Oesman, Daud Aris Tanudirjo, dan Anam Anis, mengaku telah melakukan evaluasi sebagaimana diharapkan. Namun, yang sangat ia sayangkan, sembilan poin penting yang direkomendasikan, terkesan tidak dipedulikan.

Buktinya, ketika kegiatan pengupasan tanah sampai pembuatan sistem grid arkeologi di seluruh area calon bangunan PIM dengan mengacu pada grid Segaran II yang masih dapat dilacak diminta dihentikan sementara. Meski rekomendasi dikeluarkan tanggal 5 Desember, sepekan kemudian ketika dicek ke lapangan, pelaksanaan proyek tetap jalan.

"Proyek berhenti di akhir Desember 2008 bukan karena rekomendasi Tim Evaluasi , tapi karena tahun anggaran 2008 berakhir," ujarnya.

Dalam presentasi berjudul Vandalisme Situs Majapahit, arkeolog dan guru besar FIB UI ini menampilkan foto-foto penggalian oleh kuli proyek PIM yang merusak artefak, bekas bangunan peninggalan kerajaan Majapahit. Ada sumur Majapahit tipe Jobang dirusak untuk penahan konstruksi tiang yang mau dicor. Mencermati bekas-bekas galian yang rusak akibat penggalian, Mundardjito mengambarkan, ke depan akan ada lembaran-lembaran penelitian yang kosong.

Padahal, sekecil apa pun bagian bangunan dan artefak masa Majapahit yang dihancurkan dan dirusak, hal itu akan memengaruhi rekonstruksi sejarah masa lalu Majapahit. Ia juga mengatakan, setelah mempelajari gambar dan hasil peninjauan lapangan dan gambar penelitian arkeologi tahun 1989-2007, disimpulkan beberapa daerah situs penting diduga (akan) terkena pondasi bangunan.

Penelitian Mundardjito di tahun 1979 sudah merekomendasikan agar jangan ada bangunan di situ (di lokasi proyek PIM sekarang) karena ditemukan banyak keramik, gerabah, dan tulang-tulang. Jadi, lokasi itu sangat berharga, bernilai tinggi, bagi rekonstruksi Kejaraan Majapahit, satu-satunya kerajaan yang meninggalkan sisa-sisa permukiman tipe kota.

Anam Anis, yang juga masuk Tim Evaluasi, menambahkan, kerusakan begitu parah terjadi karena yang menggali-lobang-lobang di situs untuk pondasi itu kuli bangunan sehingga pelaksanaan lapangan tidak mengacu pada kaedah-kaedah pelestarian arkeologis. "Kontraktor tidak melengkapi tim kerjanya dengan tenaga ahli arkeologi yang berpengalaman," tandasnya.

Tidak hanya Tim Evaluasi Pembangunan PIM yang mengemukakan bahwa proyek PIM telah merusak bagian penting situs Majapahit. Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta Siswanto sebelumnya juga menegaskan, lokasi pembangunan PIM merupakan area yang paling potensial.

"Balai Arkeologi Yogyakarta menempatkan area tersebut sebagai prioritas pertama untuk penelitian arkeologi (khususnya Kota Majapahit) sehingga semestinya tidak boleh ada kegiatan lain yang tidak berkaitan dengan penelitian arkeologi," katanya.

Menurut Siswanto, data arkeologi berupa bagian bangunan dan artefak masa Majapahit di area proyek, yang semestinya menjadi bahan penelitian guna mengungkapkan kejayaan Majapahit, rusak dan musnah akibat pembangunan fondasi.

Arsitek Arya Abieta sebagai Tim Evaluasi Pembangunan PIM dalam forum paparan di Kompas juga mempertanyakan, kenapa proyek PIM yang tak dilakukan sesuai prosedur standar anggarannya bisa lolos di DPR.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

siap berkontribusi?